Seni Rupa Modern Jerman  

PENGERTIAN SENI LUKIS
Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar .

Seni Rupa – Tempat untuk Gagasan Baru

Sejak tahun 1990-an, seni lukis dan fotografi dari Jerman meraih sukses besar di dunia internasional. Apa yang disebut “keajaiban lukisan baru Jerman” dikenal di luar negeri sebagai “Young German Artists”. Para seniman berasal dari Leipzig, Berlin atau Dresden. Neo Rauch adalah wakil paling tenar dari “Mazhab Leipzig Baru”. Gaya mazhab tersebut ditandai oleh realisme baru yang berkembang – bebas ideologi – dari “Mazhab Leipzig” lama, yang termasuk lingkup seni rupa bekas RDJ. Lukisannya sering memperlihatkan orang-orang pucat yang seolah-olah menunggu sesuatu yang tak tentu. Motif itu dapat ditafsirkan sebagai pantulan keadaan di Jerman pada awal milenium baru. Apa yang disebut “Dresden Pop”, di antaranya Thomas Scheibitz, memetik unsur dari iklan dan dari estetika video dan televisi sambil bermain dengan estetika swakaji mengenai sini dan kini. Kebanyakan seniman generasi menengah menganggap pembahasan kritis mengenai nasionalsosialisme, seperti yang ditemukan dalam kar­ya Hans Haacke, Anselm Kiefer dan Joseph Beuys, sebagai urusan masa lampau. Sebaliknya yang tampak di kalang­an perupa ialah “kebatinan baru” serta penggarapan bidang-bidang pengalaman yang saling berbenturan: Karya-karya Jonathan Meese dan André Butzer mencerminkan depresi dan fenomena-fenomena obsesi; kedua perupa itu dianggap sebagai wakil “realisme neurotik”. Dengan karyanya “Mental Maps”, Franz Ackermann menggambarkan dunia sebagai desa global dan memperlihatkan musibah yang berlangsung di balik layar. Tino Sehgal menghasil­kan karya seni yang eksistensinya terbatas pada waktu “performance”-nya dan yang tidak boleh direkam; ia mencari bentuk produksi dan bentuk komunikasi di luar batas ekonomi pasaran.

Besarnya perhatian kepada seni rupa di Jerman tercermin pula dalam pameran documenta yang diseleng­garakan lima tahun sekali di Kassel sebagai pameran seni rupa aktual yang terkemuka di dunia; documenta 13 akan dibuka pada tanggal 9 Juni 2012. Berbeda dengan seni rupa – yang arti pentingnya digarisbawahi oleh pendirian sejumlah museum swasta baru – seni fotografi harus berjuang lama sampai diakui sebagai bentuk seni yang mandiri. Sebagai pelopor pada tahun 1970-an dikenal Katharina Sieverding dengan rangkaian potret dirinya yang menelusuri batas antara individu dan masyarakat. Terobosan terjadi pada tahun 1990-an dengan sukses yang diraih tiga murid dari Bernd dan Hilla Becher, pasangan suami istri fotografer: Dalam karya foto mereka, Thomas Struth, Andreas Gursky dan Thomas Ruff menimbulkan realitas mengilap yang me­nyembunyikan sesuatu. Pengaruh kelompok ini terhadap corak fotografi internasional begitu besar sehingga mereka dinamakan “Struffsky” saja.

Contoh gambar lukisan Jerman


Pengertian seni patung

Patung merupakan karya seni rupa tiga dimensi, artinya benda yang memiliki volume atau isi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, patung diartikan benda tiruan bentuk manusia dan binatang yang cara pembuatannya dipahat.

Seni patung disebut juga plastic art atau seni plastik. Maksudnya, plastik mudah dibentuk sesuka hati. Seni patung juga diartikan sebagai seni bentuk, maksudnya bentuk-bentuk yang memiliki keindahan dengan beragam bentuk seperti bentuk manusia,binatang, dan bentuk lainnya


Fungsi Patung

Berdasarkan tujuan pembuatannya, patung ada enam macam, yaitu sebagai berikut:
a.    Patung religi, sebagai sarana untuk beribadah atau bermakna religius
b.    Patung monumen, untuk memperingati jasa seseorang, kelompok, atau peristiwa bersejarah
c.    Patung arsitektur, yaitu patung yang ikut aktif berfungsi dalam konstruksi bangunan
d.    Patung dekorasi, yaitu patung untuk menghias bangunan atau memperindah lingkungan (taman)
e.    Patung seni, yaitu patung yang diciptakan untuk dinikmati keindahannya
f.    Patung kerajinan, yaitu patung hasil karya kerajinan.

Seni patung di Jerman

Johann Wolfgang von Goethe menjelaskan kepada “Ikatan Perupa Jerman” pada tahun 1817 bahwa tujuan utama dari semua seni patung adalah menampilkan martabat manusia dalam sosok patung manusia.” Objek manusia sering kali digunakan sebagai obyek seni pahat patung. Seni pahat patung di masa sebelum perang didominasi oleh berbagai aliran seperti surealisme, kubisme dan ekspresionisme. Tapi pada tahun 30 dan 40-an kekayaan akan nuansa aliran ini di Jerman diikuti oleh aliran realisme-nya rezim NAZI. Perupa penting Jerman seperti Ernst Barlach (1870-1938) dan Ewald Mataré (1887-1965) dikejar-kejar dan dihalang-halangi untuk berkarya karena karya mereka oleh rezim NAZI dicap sebagai “karya seni yang tidak sesuai dengan konsep seni” (entartete Kunst). Dalam berkarya Barlach berkonsentrasi pada penampilan figur-figur manusia, sementara Mataré lebih memilih binatang sebagai unsur penting obyek karyanya. Kesamaan dari kedua perupa patung ini adalah karya-karya mereka tidak didominasi oleh keadaan hektik sehari-hari, tapi terus mencoba mengangkat sesuatu yang konstant, baik dalam alam maupun dalam eksistensi manusia. Dalam akhir masa hidupnya Mataré juga mengangkat topik religius dan merancang pintu dari perunggu untuk portal bagian selatan Katedral Köln dan pintu-pintu gereja perdamaian dunia di Hiroshima. Disain ruang Seni pasca perang di tahun 50- dan 60-an mendorong terjadinya revolusi besar dalam seni pahat patung tradisional. Patung yang biasanya berbentuk bulat, dengan volume yang tampak padat diganti dengan patung ringan dengan ruang linear. Premis dari perkembangan baru seni patung ini adalah keseimbangan dan tanpa berat serta geometri sebagai alat konstruksi arsitektonis. Salah satu pematung penting di Jerman yang menganut aliran patung dengan ruang linear adalah Norbert Kricke (1922-1984). Kricke memelihara hubungan yang erat dengan seniman-seniman dari kelompok Düsseldorf “Zero” dan dengan kelompok “Nouveau Réalisme” di Paris. Pada akhir tahun 50-an dan awal 60-an muncul suatu kalangan di Düsseldorf yang mencoba kembali mengikuti perkembangan seni patung internasional dan ikut serta secara aktif dan inovatif pada perkembangan itu. Bahan-bahan tradisional untuk membuat patung seperti perunggu dan batu diganti dengan bahan-bahan baru seperti logam, kaca, semen, cahaya, lateks dan fiberglas apabila diperlukan untuk menimbulkan kesan plastiknya. Dalam perkembangan seni internasional tahun 60-an di Jerman seniwati dari Hamburg Eva Hesse (1936-1970) juga menempati posisi yang diperhitungkan. Dengan patung-patungnya yang menyita ruang di tahun 1966-1970 dan dengan menggunakan materi baru dan tak biasa, yakni lateks dan fiberglas. Pada tahun 70- dan 80-an istilah ini sangat dominan dalam dunia seni di Jerman dan memperluas istilah seni tradisional. Mulai saat itu seni dipandang sebagai suatu proses penemuan yang bersifat integral yang bisa diikuti setiap orang tanpa harus memperhatikan prinsip-prinsip disain. Di samping “plastik sosial” patung monumental juga menjadi ciri seni patung tahun 70-an dan 80-an yang fisik kolosalnya terkesan sebagai pelengkap dan tantangan terhadap arsitektur kota besar. Seniman yang mewakili kelompok ini adalah Brigitte Matschinsky-Denninghoff, pematung wanita kelahiran tahun 1923, yang bekerja dengan bentuk-bentuk abstrak dari baja krom-nikel. Bagi pematung Hans Kock (lahir 1920) kota besar yang modern juga merupakan tantangan. Besarnya volume arsitektur menuntut para pematung untuk menghasilkan gambar-gambar antara, untuk menciptakan patung-patung yang bersifat monumental. Patung-patung ini berfungsi sebagai pijakan yang berkorespondensi dengan hal yang lebih besar, yakni gedung-gedung monumental. Tujuan dari penciptaan patung monumental adalah untuk menciptakan patung-patung baru hasil dari permainan dengan bentuk-bentuk yang bebas dan yang umumnya abstrak. Bentuk-bentuk yang bisa disejajarkan dengan karya arsitektur. Bermain dengan peluang Seni patung pada masa tahun 90-an hingga sekarang didominasi oleh berbagai bahasa bentuk, ironi dan selera tinggi. Baik itu muncul dari repertoire seni patung tradisional maupun hasil dari perkembangan seni patung yang menekankan pada ruang dan instalasi. Angkatan 90-an ini diwakili oleh para pematung terkenal dan nama mereka tertera dalam Documenta di Kassel, seperti Thomas Schütte (lahir 1954), Stephan Balkenhol (lahir 1957) dan Bogomir Ecker (lahir 1950). Mereka inilah yang mewakili generasi baru seniman Jerman yang menafsirkan seni patung secara individual dan bebas bentuk. Sebagai karya seni di ruang publik Bogomir Ecker menciptakan sebuah patung yang memiliki 14 bagian dari lempengan baja yang dicat merah berbentuk daun telinga. Instalasi 14 telinga berwarna merah yang dipasang pada 14 pohon besar di taman Jenisch di Hamburg adalah sebuah kreasi yang puitis. Stephan Balkenol yang pernah belajar seni patung pada Ulrich Rückriem (lahir 1938) termasuk salah satu pematung seni patung figuratif yang terkenal di Jerman. Di saat Balkenol memahat figur-figur dari kayu oak yang besarnya lebih dari dua meter dan mewarnainya, maka terciptalah sosok-sosok yang kukuh dan tenang. Dengan kepala tegak, pandangan nampak tenggelam dalam pikiran yang jauh, patung-patung ini bertahta di atas atap gedung kongres musik di Lübeck. Ia merancang jeruji besi yang berlapis-lapis dan berbelit-belit mirip seperti labirin pagar. Rancangan pagar besi yang bisa dilewati orang ini membuka berbagai perspektif dan spektrum bentuk yang linear bagi para pengamatnya. Klaus Hack (lahir 1966) berkonsentrasi membuat figur manusia yang abstrak-arkais. Hack kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa Berlin pada Rolf Szymanksi dan Lothar Fischer. Ia menciptakan karyanya dengan cara menggergaji bentuk-bentuk yang ia tentukan sebelumnya dan kemudian mengangkatnya satu per satu dari batang kayu dengan pahat tusuk. Kemudian ia mengapuri figur kayu yang mentah itu dengan warna putih. Dengan keakuratan yang mantap Hack berhasil membentuk sebuah baju filigran dari blok kayu. Dengan demikian karya-karya Klaus Hack yang diantaranya bisa dilihat di Museum Mannheim mendemonstrasikan teknik yang istimewa, kecintaannya pada detil serta proporsi yang seimbang. Berbeda dengan perupa-perupa yang menekankan pada volume yang masif, Rolf Bergmeier (lahir 1957) menciptakan karya patung dengan fisik yang terkesan hampa. Ini sesuai dengan pencerapannya sendiri terhadap alam. Obyek-obyek yang mirip jaringan dalam „Öl auf Holz“ (Minyak di atas Kayu) yang terbuat dari perpaduan tiang-tiang kayu dan diwarnai dengan minyak membentuk suatu kesatuan organis. Obyek-obyek ini mengembangkan dinamika sendiri dan membentuk dirinya menjadi ciptaan alam yang otonom yang terkesan sakral. Aktualitas karya-karya Rolf Bergmeier lah, perupa yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa di Hamburg, yang mendorong kolektor Lafrenz dan Reinking untuk mengoleksi karya-karyanya yang diberi judul Junge Kunst (karya seniman muda) di Neues Museum Weserburg (Museum Baru Weserburg) di Bremen mulai April 2004. Dalam pasar seni, patung termasuk karya favorit untuk tahun-tahun ke depan. Permintaan akan kualitas yang solid, apakah itu dari segmen periode pasca perang Jerman ataupun dari perkembangan seni sekarang, akan terus meningkat. Sebagai indikatornya adalah nilai seni patung itu sendiri di Jerman yang semakin mendapat tempat di kancah seni internasional.

Seni Grafis 

Kata grafis atau grafika berasal dari kata Graphein yang berarti menulis. Kata graphein berasal dari bahasa Yunani. Sehingga diartikan seni grafis adalah seni yang dihasilkan melalui proses cetak mencetak. Seni Grafis termasuk salah satu kegiatan seni rupa yang diwujudkan dalam bentuk dwimatra dan dilaksanakan dengan menggunakan bermacam medium, proses dan teknik cetak.

Karya seni grafis merupakan karya yang dihasilkan melalui proses cetak yang berlandaskan pada empat prinsip teknik cetak, yaitu : cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar dan cetak saring. Tiap salinan karya dikenal sebagai 'impression'. Lukisan atau drawing, di sisi lain, menciptakan karya seni orisinil yang unik.

Cetakan diciptakan dari permukaan sebuah bahan, yang umum digunakan adalah: plat logam, biasanya tembaga atau seng untuk engraving atau etsa; batu digunakan untuk litografi; papan kayu untuk woodcut/cukil kayu. Masih banyak lagi bahan lain yang digunakan dalam karya seni ini.

Seni Grafis Indonesia                     


Jerman merupakan tempat kelahiran seni grafis modern dan sejarahnya mempunyai ciri fungsi ganda, yaitu sebagai alat desain bebas di satu sisi dan di sisi lain sebagai alat reproduksi. Teknik-teknik cetakan gambar, yakni memperbanyak garis dan bidang permukaan, bisa ditelusuri sampai masa sebelum adanya perkembangan manusia. Namun fakta yang penting bagi seni grafis modern bukanlah tekniknya, melainkan cetakan di atas kertas (Christian Burchard, Goethe-Institute, Online-Redaction 2003).
Pada perkembanganya seni grafis itu berubah menjadi dua arah, yaitu terapan dan murni. Seni grafis terapan dikenal sebagai desain grafis sebagai contoh, dunia iklan, poster, kemasan dan lain-lain. Sementara seni grafis murni tetap berjalan sebagai kegiatan ekspresi diri melalui bidang percetakan.
Seni grafis merupakan cabang seni rupa dimana kegiatannya adalah memperbanyak gambar yang didahului dengan proses kreatif di atas kertas. Serupa dengan pernyataan Isa Gaenzken di Jerman, perkembangan grafis di Indonesia hampir serupa, malah cabang seni ini kurang dikenal karena tenggelam oleh keberadaan seni murni lainnya.



Daftar Pustaka

http://artkimianto.blogspot.com/2009/11/karya-patung-dari-hamburg-dan-bremen.html

Penyusun:
1.INTAN EKA A.
2.ISMAWATI
3.KARINA
4.LINGGA PRAMADANA R.
5.LISA MUHLISAH

Posted by
Kelas 12IPA4 SMAN 2 KAB.TANGERANG

More

SENI RUPA KONTEMPORER JEPANG


                Sejak awal tahun 2000-an, anime dan manga merupakan seni rupa kontemporer Jepang yang identik dengan  memperlihatkan atau menampilkan pengaruh budaya pop Jepang yang mendunia. Hal tersebut adalah bukan suatu hal yang baru, namun ada sejak tahun 1990-an dan dominan  tidak lepas dari para seniman Jepang yang popular, terutama Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami dalam waktu kira-kira  10tahun terkahir ini.  Tampil dan susksesnya nama Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami dalam penampilan-penampilan besar internasional yang sukses dapat mempengaruhi masyarakat sekitar dan citra seni rupa Jepang berkembang besar. Selain Yoshitomo Nara dan Takashi Murakami masih banyak nama-nama seniman Jepang yang ikut serta dalam perkembangan seni rupa Jepang, yaitu seperti Aida Makoto, Akira Yamaguchi dan Tenmyouya Hisashi.
          Seni merupakan suatu hal yang tidak bisa terlepaskan dari kehidupan manusia yang akan terus berkembang. Seni dapat muncul dalam berbagai bentuk,jenis dan ukuran, Seni yangdapat diciptakan tidak hanya yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, contohnya patung dll. Tapi kita juga dapat membuat seni lainnya, seperti seni yang berada di negara Jepang. Beberapa  seni yang kreatif dan unik di Negara Jepag adalah :

1.Seni Melukis Sawah ( Seni Tanbo )
     

Sekarang ini di Negara Jepang sawah tidak hanya untuk menanam. Tapi sawah juga digunakan untuk membuat atau menciptakan suatu karya seni. Biasanya untuk melukis menggunakan bahan dan alat-alat lukis,tapi lain hal nya di Negara Jepang, mereka membuat harya seni menggunakan tanaman-tanaman yang mereka tanam ataupun panen yang digunakan sebagai bahan untuk membuat lukisan sawah ( seni Tanbo ). Tanaman yang mereka gunakan untuk membuat seni tersebut adalah tanaman yang memilik warna yang berbeda.
 Seni tanbo ini dimulai sejak tahun 1993 yang berawal dari masyarakat inakadate. Masyarakat Jepang membuat seni ini berawal dari rasa hormat para penduduk terhadap sejarah desa tersebut. Hingga sekarang setiap bulan April mereka berdiskusi  untuk memutuskan gambar yang akan mereka buat atau ciptakan.

2.Seni Menghias Bento
        Untuk menghasilkan seni bento ini,  makanan-makanan yang telah kita siapkan dihias sedemikian rupa hingga menjadi gambar yang kita inginkan hingga terlihat unik.



3.Seni Akuarim
         
          Belum lama ini orang-orang Jepang telah memperkenalkan suatu k bentukarya seni baru, seni tersebut dinamakan seni akuarium. Hidetomo Kitamura adalah salah satu seniman yang mendalami karya seni akuarium ini. Hidetomo Kitamura menggunakan ribuan ekor emas yang di simpan di instalasi yang terbentuk kurang lebih 50 buah akuarium.

4.Seni Lukis Make-up Tubuh

            Choo-san adalah seorang seniman Jepang yang telah memperkenalkan karya seni ini.  Choo-san telah berhasil membuat dan menciptakan karya seni ilusi make up ini  yang berbentuk manusia, sehingga tampak seperti tangan manusia yang dimodifikasi

5.Amezaiku, Seni Permen


            Masih banyak karya seni dari Negara Jepang

Sumber :

Penyusun artikel:
1. CEPI SUMARNA
2. DANDI KUNTARA
3. DEDE ROSDIANA
4. EKA APRILIA
5. IHROM HUMAEROH

Posted by
Kelas 12IPA4 SMAN 2 KAB.TANGERANG

More


Seni rupa modern Vietnam



Melalui lukisan lak dan lukisan di atas kertas Do ciptaan pelukis Mai Dac Linh



Pelukis Mai Dac Linh
(Foto: vov.vn)

(VOVword) – Hampir 30 lukisan lak dan lukisan  di atas kertas Do ciptaan pelukis Mai Dac Linh pada pameran dengan tema “Kepercayaan dan waktu” yang baru saja dipamerkan di Perancis telah meninggalkan kesan-kesan yang sulit dilupakan di kalangan penggemar seni rupa Perancis tentang seni rupa kontemporer Vietnam. Menerima langgam seni rupa Eropa, tapi membawa filsafat Ketimuran yang mendalam, maka semua lukisan ciptakan pelukis Mai Dac Linh menggunakan bahasa Barat untuk berbicara tentang nilai-nilai Vietnam.

“Kepercayaan dan waktu” adalah pameran pribadi pertama yang diselenggarakan pelukis Mai Dac Linh di Perancis dengan 13 lukisan lak, diantaranya ada 5 lukisan dengan ukuran besar dan hampir 10 lukisan di atas kertas Dom, satu jenis kertas khusus. Semua lukisan lak ciptaan pelukis Mai Dac Linh dirampingkan, punya komponen yang halus, kaya dengan sifat manifestasi dan isinya berfilsafat.
            Setiap lukisan lak mengkristalisasi nilai-nilai tradisional walaupun cenderung pada warna kuning, warna hijau atau warna merah muda seperti dalam lukisan-lukisan “Waktu dalam tangan”, “Diri sendiri”, “Keluarga kenamaan”. Atau kilau kemilau dalam karya “Aliran”. Satu ciri lagi yang dilihat dalam lukisan-lukisan ciptaan pelukis Mai Dac Linh ialah keharmonisan semua bahan tradisional lak Vietnam dengan bahasa seni rupa modern, memanifestasikan kesenian Ketimuran. “Vietnam adalah negara agraris dan hampir di satu desa yang kecil pun juga ada satu pagoda, semangat agama Buddha di kalangan orang Vietnam sangat jelas. Dari dahulu kala, para pendahulu telah pernah menggunakan bahan lak untuk menciptakan lukisan lask tentang patung-patung Buddha. Itu juga adalah satu kisah dan legenda bagi saya untuk mengaitkannya dengan pekerjaan saya. Saya juga ingin menyampaikan sebagian semangat kemanusiaan, semangat agama Buddha pada lukisan lak saya dan itu juga adalah hal untuk banyak berbicara dan berdialog dengan para penonton”.

Lukisan ciptaan pelukis Mai Dac Linh


            Oleh karena itu,  dalam cara memberikan nama kepada setiap lukisan lak misalnya “Impian yang terbang”, “Melampaui pintu gerbang”, “Lagu musim panas”, maka pelukis ini juga menaburkan ide-ide yang kilau kemilau  dan  bermenung di bawah sadar.
            Ketika berbicara tentang lukisan-lukisan ciptaan pelukis Mai Dac Linh, kritikus seri rupa Perancis, Corinne de Menonbille, pencipta buku yang berjudul “Seni lukis kontemporer Vietnam” menekankan: “Ciri-ciri yang paling khas ialah cara menggunakan teknik lak yang dilakukan  pelukis Mai Dac Linh yang telah berhasil menguasai warna-warni, menciptakan warna-warna yang mendalam, tapi jernih. Motif-motif tentang bunga teratai, genderang perunggu Dong Son dan banyak citra tradisional Vietnam telah dipindahkannya secara sukses pada seni lukisan lak. Ketika dia melukis di kertas Do, jenis kertas yang sangat khusus dalam lukisan Dong Ho Vietnam, semua kekreatifannya sangat khas. Warna-warni yang digunakan oleh pelukis Mai Dac Linh di kertas Do ringan campur dengan segar. Kekreatifan yang terus-menerus dari pelukis Mai Dac Linh menciptakan lukisan-lukisan yang sangat senang, ada koordinasi antara Barat dan Ketimuran, terus menyampaikan nilai-nilai Vietnam dalam lukisan, baik di bahan lak maupun kertas Do”.
  
      Saat memasuki museum seni Ho Chi Minh City, langsung disambut oleh karya-karya realistik perupa Indonesia. Di sana terpampang karya Agung Mangu Putra ‘Dia Menatapku #5’, Chusin Setiadikara ‘The Old Scale’, Mahdi Abdullah ‘Top Portrait: AK47’, dan Rendra Santana ‘Next Generation’.
Mereka menyediakan karya-karya dengan teknik realistik yang piawai. Seri Portrait Agung Mangu Putra, Dia Menatapku #5, menampilkan seorang kakek yang kulitnya telah termakan usia, dipenuhi oleh keriput yang mengerut di sana-sini dengan kulit yang tidak mulus. Mangu menggarapnya dengan sangat baik, meninggalkan goresan palet antara yang halus dan kasar. Wajahnya menatap siapa saja yang mendekatinya.
Chusin menggabungkan teknik gambar dan lukisan. Dia menggarapnya dengan bahan cat minyak, charcoal, dan akrilik. Maka muncullah gambar timbangan tua yang sudah peot, dan pecah-pecah di sana-sini. Sedangkan di sekujur kanvas, dan latar belakangnya didominasi oleh goresan charcoal yang sangat kuat. Lukisan ini diberi judul The Old Scala.
       Mahdi Abdullah menampilkan karya Top Portrait: AK-47. Sosok wajah nenek Aceh yang kulitnya telah mengerut, di sekitar wajahnya ditumbuhi kutil. Penutup kepala—kebiasaan perempuan Aceh—terhiaskan oleh kain berornamen batik. Sedangkan di dalam matanya tersimpan sepucuk senjata AK-47. Tatapan yang menyimpan kekerasan sejarah masa lalu.
      Rendra Santana dengan karya Next Generation-nya membawa pesan tentang waktu: Waktu masa silam dan generasi sekarang. Empat karya tadi menyambut tamu yang  hadir pada peresmian pameran Picturing Pictures yang dikuratori oleh Jim Supangkat. Pameran diresmikan oleh Konjen Indonesia, Dalton Sembiring, Selasa (18/6). Pameran ini terlaksana berkat kerja sama Art XChange Gallery Singapore, Konjen Indonesia, dan Ho Chi Minh City Fine Art Museum Vietnam. Pameran Picturing Pictures, An Exhibition of 21 Contemporary Indonesian Artists akan berlangsung hingga 29 Juli 2013.
Jim Supangkat dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan, pameran ini coba menunjukkan bahwa lukisan masih dapat dianggap sebagai bagian dari perkembangan seni rupa kontemporer. Dengan demikian,  bukan kebetulan bahwa semua karya-karya seniman Indonesia yang dipamerkan di sini adalah lukisan. Tema pameran ini, adalah  Picturing Pictures, menunjukkan usha untuk membangun kerangka untuk memahami lukisan kontemporer melalui filsafat seni.
    Selanjutnya, Jim menyebutkan, dalam bidang filsafat, menggambar(kan) dianggap sebagai langkah pertama menuju berpikir. Jika ada seseorang yang tertarik pada suatu realitas tertentu, gambar akan terbentuk dalam benaknya, seperti kaset atau salinan realitas fenomenal. Selama proses ini, pikiran menggambarkan realitas sebagai upaya untuk memahami dan menyadari bakat realitas ini yang telah menarik perhatiannya. Proses ini dikenal sebagai “denotasi”, menunjukkan upaya untuk membangun pengetahuan atau mengerti kebiasaan dari realitas fenomenal. Hal ini juga dikenal sebagai cara untuk membangun representasi realitas kata.
    Wakil Konsul Indonesia, Desy Nurmala Dewi mengatakan,  dia tidak menyangka kalau pameran ini begitu ramai dipadati pengunjung, tidak seperti biasanya saat  membuat acara lainnya. Karya-karya yang ditampilkan pada pameran Picturing Pictures oleh perupa Indonesia ini hampir semuanya—bentuk figuratif—membawa pesan ke-Indonesiaan sekarang.
   General Konsul Indonesia, Dalton Sembiring saat pembukaan pameran mengatakan, dengan pameran Picturing Pictures oleh perupa Indonesia kita jalin persaudaraan dan  saling bertukar sapa dengan kebudayaan kita sesama rakyat di Asia yang hampir serupa di sana-sini. Pameran ini merupakan paparan “pemandangan” sosial politik dan budaya Indonesia saat ini. “Dengan nilai-nilai seni yang di paparkan di ruang ini, mari kita saling melihat ke dalam dan berinstrospeksi pada diri kita masing-masing untuk lebih mempererat tali silaturahmi antar-bangsa,” dia berkata.
   Selanjutnya, di sayap kiri-kanan gedung terpampang karya-karya lukisan dari 21 seniman Indonesia lainnya, seperti Heri Dono, Tatang Ramadhan Bouqie, Masagoeng, Cadio Tarompo, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Andy Wahono, Jange Rae, Andrinalia, Indyra, Dirman Sapoetra, dan lain-lain.

Pertemuan Seniman Indonesia dan Vietnam
    “Di negara komunis seperti Vietnam, perempuan yang telah menikah tidak diperbolehkan melukis lagi, karena ada aturan tak tertulis bahwa  perempuan yang telah menikah dianjurkan untuk mengelola keluarganya saja,” sebut salah seorang pelukis wanita (tidak mau disebutkan namanya). Namun, dia melawan terhadap aturan ini. Dia  tetap melukis hingga sekarang walau  lukisannya itu sungguh susah untuk tampil di ruang pameran.
    Tidak hanya itu. Di daerah Van Thanh Tourist Park, Phuong, Ho Chi Minh City, sebuah kompleks taman yang sangat asri dan tertata dengan baik dan hijau, terdapat sebuah gedung yang mencolok mata dengan sebaran karya-karya tiga dimensi tumpah ruah hingga ke taman yang asri. Gedung yang didominasi warna biru itu adalah sebuah bangunan studio patung untuk perempuan. Konon, setiap hasil patung yang telah selesai dan layak pamer, secara periodik didatangi dan dipantau oleh pemerintah. Memang ada aturan-aturan tak tertulis buat karya-karya seni di negara yang masih melambai bendera palu arit ini.

Kampung seniman
      Selanjutnya, penulis dan sejumlah seniman Indonesia berkesempatan menjadi tamu garden party ke studio-studio dan rumah beberapa seniman senior Vietnam. Tepatnya di art Village yang terletak di daerah Nghe Nhan Ham Long—menjadi obyek wisata para turis manca negara—di pinggir sungai yang besar dan bersih. Dia sana kami disuguhkan dengan jamuan pesta taman, makanan dan minuman tradisional Vietnam sambil berkeliling dari satu studio ke studio artis (seniman) lainnya.
    Di Art Vilage ini terungkap bahwa seniman-seniman perupa Vietnam mendapat subsidi tanah dari Pemerintah Vietnam. Mereka memperoleh areal tanah seluas 5.000 m2 masing-masing seniman. Dan di areal tersebut mereka membangun studio seni dan rumah sebagai tempat tinggal sekaligus. Daerahnya sangat asri,  terletak di kota baru, di pinggir sungai yang airnya mengalir. Sungai-sungai di Ho Chi Minh City terkenal kebersihannya.  Sungai ini dilewati kapal-kapal besar dan transportasi kapal cepat yang lalu lalang. Dari Art Village ini kita disuguhkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari kejauhan.
     Di studio Kylong kami dijamu oleh artist Ly Khac Nhu dan istrinya Tran Phuong My. Keduanya  seniman  Vietnam. Keduanya  juga merupakan anggota Asosiasi Seniman Murni Vietnam, bahkan Ly Khac Nhu merupakan Vice President of Ham Long Art Vilage ini. Lukisan tradisionalnya yang menggunakan lacquer di atas kayu sangat mengagumkan. Lukisan tersebut  menceritakan kehidupan sosial setempat yang digarap dengan menggunakan getah lacquer, sehingga permukaan lukisannya di atas kayu seperti dilapisi kaca oleh kesan lac.
    Ly Khac Nhu menunjuk pohon lacquer di samping studionya. “Saya bisa makan daun dari pohon ini, karena dia telah menjadi saudara saya, tapi kalau orang lain yang memakannya, kulitnya akan menjadi gatal-gatal,” katanya sambil berkelakar dengan mengunyah dedaunan lacquer. Dasar seniman, getah kaca kok dimakan.



Buddha anak-anak muncul dari dalam kuncup bunga teratai. Kayu disepuh pewarna merah dan emas, dinasti Trần-Hồ, Vietnam abad ke-14 dan ke-15.
Vietnam adalah titik pertemuan cabang seni rupa Buddha utara dan selatan. bangsa vietnam di utara lebih dipengaruhi Buddhisme Cina, sementara bangsa cham di Vietnam Selatan lebih dipengaruhi Buddhisme langsung dari India dan beberapa negara tetangganya di Asia Tenggara (Kamboja, Jawa, dan Sriwijaya). Kedua cabang yang bertemu di Vietnam ini adalah aliran Mahayana, yang dicirikan dengan perwujudan tokoh Bodhisatwa yang kaya.
Kesenian Buddha Cina sangat kuat memengaruhi vietnam utara (Tonkin) antara abad pertama dan ke-9 M, dan ajaran konghucu serta Buddha Mahayana paling menonjol. Secara umum, kesenian Vietnam sangat dipengaruhi kesenian Cina. Pengaruh Cina juga terlihat dari bentuk arca, kuil dan wihara Buddha Vietnam yang mencontoh gaya Cina.
     Di Vietnam Selatan berkembang kerajaan champa (sebelum akhirnya negerinya direbut oleh bangsa Vietnam dari utara). Champa memiliki tradisi kesenian Hindu-Buddha yang kuat, sebagaimana negeri tetangganya, Kamboja. Meskipun secara umum peradaban Champa lebih bersifat Hindu aliran Siwa, beberapa peninggalan menunjukkan bahwa Buddha Mahayana pun mendapat tempat di negeri ini, seperti ditemukannya arca kepala Awalokiteswara gaya Champa. Banyak arca Champa dicirikan dengan perhiasan yang kaya. Kerajaan Champa kemudian direbut dan dijajah Vietnam pada tahun 1471, dan benar-benar runtuh pada tahun 1720, sementara orang cham tetap menjadi minoritas yang signifikan di beberapa negara Asia Tenggara.

Posted by
Kelas 12IPA4 SMAN 2 KAB.TANGERANG

More

Copyright © 2012 12 IPA 4Template by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.